Kamis, 24 Februari 2011

Kekerasan Terhadap TKW



 
KEKERASAN TERHADAP TKW



Sekarang ini tidak sedikit penduduk Indonesia (khususnya perempuan) yang bekerja mencari nafkah di luar negeri, tidak lebih karena kurang ketersediaannya lapangan pekerjaan, dan krisis ekonomi yang berlarut-larut yang telah memaksa mereka untuk menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

Para TKW bekerja sebagai seorang pembantu. Akan tetapi ditempat mereka bekerja, tidak sedikit para majikan mereka yang memperlakukan mereka tidak selayaknya. TKW diperlakukan seperti layaknya hewan. Padahal TKW juga manusia seperti kita. Tidak sepantasnya bila TKW diperlakukan secara tidak manusiawi seperti itu. Tapi walaupun begitu, kenyataan berkata tidak. Banyak TKW yang mengalami kekerasan, seperti yang dialami para TKW Indonesia yang bekerja di negara Malaysia. Salah satunya seperti Eli Indriani, TKW asal lampung selama dua bulan di Kuala Lumpur, Malaysia. Ia menderita luka disekujur tubuhnya yang didapatnya selama bekerja disana.

Masih banyaknya pemberitaan tentang pahitnya kehidupan para TKW yang disebut-sebut sebagai “pahlawan devisa” itu selalu diwarnai dengan penganiayaan dan kekerasan yang membuat keprihatinan sebagai sesama warga Indonesia. Penganiayaan (kekerasan) terhadap TKW ini bisa mengambil bentuk kekerasan fisik, psikologis, ataupun seksual.

Kekerasan yang bersifat fisik misalnya memukul, membenturkan kepala, menampar, menendang, menjambak rambut, mencakar, menyiram air panas, dan kekerasan fisik lainnya yang menimbulkan cacat fisik pada pihak korban.

Adapun kekerasan yang bersifat psikologis  seperti misalnya mengisolasi korban sehingga tak bisa komunikasi dengan keluarganya, menyekap korban dalam suatu ruangan tanpa diberi makan dan minum, mengancam akan membunuh korban jika si korban “membuka mulut”, memanggil korban dengan julukan yang hina(misalnya, hewan, pelacur, bodoh, pemalas  dan panggilan hina lainnya).

Sementara bentuk dari kekerasan seksual adalah pemaksaan terhadap korban untuk melakukan kegiatan seksual. Misalnya saja, memaksa korban untuk melakukan hubungan seksual dengan si pemaksa, atau bahkan disuruh berhubungan seks dengan binatang.

Kekerasan – kekerasan seperti itu terjadi karena bagaimanapun TKW sangat potensial menjadi target kekerasan dengan posisinya yang lemah, yang membuat mereka menjadi tunduk dengan majikannya. Majikan mereka selalu memakai senjata “kamu tidak bisa mengontrol kehidupan kamu, karena yang menggaji kamu adalah aku, maka akulah yang harus mengontrol kamu’. TKW pun akhirnya terpaksa harus menyerah pada keadaan. Saat itulah TKW telah terperangkap dalam sikon yang diciptakan majikannya, sikon yang penuh nafsu, dan ambisi. Dan pada saat itulah mereka (para majikan) bisa berbuat apapun pada TKW.

Rasa tertekan yang terus ada karena disiksa, membuat TKW ingin berlari meminta pertolongan ke negeri asalnya. Tetapi, setiap majikannya mengetahui niat tersebut pasti ia akan melarangnya dan menyiksanya lebih sadis lagi. Karena ketakutan yang dirasakan majikan jika pembantunya itu dibebaskan. Dia takut semua tindakan kriminal yang telah dia lakukannya selama ini akan terungkap. Hal itu membuat TKW susah untuk meloloskan diri.

Melihat kejadian seperti itu, kita seharusya bertanya. Kemana para aparat yang bertugas melindungi warga negaranya disaat warganya membutuhkan keadilan? Bukannya setiap warga negara memiliki Hak Asasi Manusia?

Semua pertanyaan itu memperjelas sikap pemerintah yang masih mengabaikan jaminan perlindungan terhadap warga negaranya. Untuk itu, perlu adanya koreksi tentang upaya apa saja yang selama ini kurang dilakukan sehingga bisa terjadi kekerasan – kekerasan yang melanggar norma seperti apa yang telah terjadi kepada para TKW selama ini.

Agar kekerasan terhadap TKW tidak terjadi lagi, perlu adanya perlindungan yang kuat terhadap para TKW, perlu pengawasan terhadap setiap agen penyalur tenaga kerja agar para TKW tidak terlantar saat diluar negeri. Selain itu, hukum juga harus lebih ditegakkan lagi, pelaku kekerasan harus dihukum sesuai dengan peraturan yang berlaku sehingga para majikan tidak lagi seenaknya memperlakukan para TKW.

”Semoga tidak ada lagi kekerasan yang terjadi terhadap TKW”.

anyaman kertas



Rabu, 23 Februari 2011

Kamis, 28 Oktober 2010

Description 6


This is a picture of a tree.
But there are no leaves.
Not a leaf was found in the tree.
The tree is not like other trees.
This is a strange and rare trees.

It's shaped like a large human head, seen from the side.
Twig - branch was seen to form the nose and mouth.
The tree is located in vast green fields.
And it's only trees that were there.

Description 5


This is a picture of a car that get accident.

This car looks from the front.
Front and rear tires into the ditch.
The trench is not too large so that only part of the car that went into the ditch.
The car is black with KT 2866A0.
Headlights look broken right hand.
The location of the car near a deserted highway, there are only a few vehicles pass.
But do not know why can enter into the ditch, probably the driver was sleepy or maybe drunk.
There was a man who approached the car to see the condition of the car. And also see how the people inside the car.


Description 4 ( Logo BMKG )

This is a logo BMKG.

BMKG is Climatology Meteorology and Geophysics Agency.

BMKG is one of non-ministerial government agencies that carry out government functions in the field of Meteorology, Climatology and Geophysics.

BMKG very useful not only for government agencies but also for the wider community

BMKG benefit the general public because these institutions are related to the predicted weather, climate, air quality, tectonic earthquakes, tsunamis, gravity, magnetic earth, air and electrical signs of the time.

So many will benefit the BMKG.